CHAPTER 1
Jam dinding Super Junior di kamarnya menunjukkan pukul 01.00 dini hari saat tiba-tiba Lollipopnya mengeluarkan ringtone No Other Kyuhyun’s part yang disukai Chika. Tapi toh suara itu hanya membuatnya terbangun untuk mereject telepon masuk itu, bukan malah mengangkatnya.
Tapi Kyuhyun tetep aja tuh nyanyi di handphonenya Chika yang mau tak mau memaksanya mengangkat telepon gila dini hari begitu
“Haloooo ? Lo tau nggak sih ini jam berapa ? Besok aja lah ya nelponnya, daaaah!” semburnya begitu saja tanpa tau siapa yang meelepon dan saat Chika akan kembali terlelap, lagi-lagi handphonenya berdering.
“Halo ? Ini siapa ? Tau waktu nggak sih ?” katanya ketus pada pembicara di seberang sana.
“Chik ? banguuun woy! Ini gue, Nadia !” Suara heboh Nadia yang berteriak-teriak disana membuat mata Chika sedikit terangkat, maksudnya yaah, kenapa coba ada orang yang nelpon sampai begitu atusias jam 1 malem gini ? non sense!
“Lo kenapa sih Nad ? Gue mau tidur, beosk itu ulangan Sejarah dan gue belum selesai belajar, jadi please banget ya, lo nggak usah ganggu gue dengan hal-hala bodoh macam waktu lo nelpon gue jam 3 pagi buat nanya kapan ulang tahunnya Donghae atau apa bahasa Koreanya “gue sayang sama lo” ! Lo pikir gue apa ? Kamus idup ?” Chika setengah emosi menghadapi Nadia yang anehnya malah tertawa bahagia.
‘Bukan kali Chik, lo mah bukan kamus idup, tapi perpustakaan berjalan! Hahaha” Nadia malah terus menertawakan Chika.
Manyun dan sebal, Chika masih saja menjawab Nadia “Oke, sekarang apa yang mau lo tanyain ke perpustakaan 24 jam ini ? hah ? Ngomong gih !”
Nadia sedikit menghela napasnya sebelum akhirnya dia mengatakan “Chik, untuk pertama kalinya dalam hidup gue, selama 17 tahun ini, untuk pertama kalinya, bayangin Chik pertama kali! Gue …’
“Lo ngapain ? Lo mimisan ? Cacar air ? Atau lo abis ketemu sama Presiden Brunei?” Chika masih saja menggerutu karena tingkah Nadia yang menyebalkan.
“Jiaaah! Chikaa ! Brune mah nggak punya presiden Chik, punyanya Sultan, nggak update banget sih lo!” sindir Nadia yang semakin membuat Chika naik darah.
“Lo bener-bener ya Nad! Buruan deh mau ngomong apa ? Gue ngantuk nih!” teriak Chika frustasi. Nadia masih saja terkekeh membayangkan wajah sahabatnya yang pasti sekarang ini lebih sepet daripada badut di Kids Fun.
“Gue jatuh cinta Chika,” jawab Nadia pelan, seperti malu-malu.
Perkataan Nadia yang barusan sontak membuat Chika tergagap bangun dan histeris, “Lo ? Lo jatuh cinta Nad ? Serius ? AAAAH! Siaaal, gue over excited nih,! Hehehe, lo serius gitu ? Cieee Nadia, kenalin dooong! Lo jatuh cinta ma siapa sih Nad ? Roy / Bimo ?? atau anak IPA 3 itu ? iyaa ya Nad ? yang IPA 3 itu ? Siapa Nad namanya ? Ryan ? Ryan bukan sih ? eh ?” Chika yang memang punya penyakit over excited ini terus nyerocos tentang kemungkinan siapa saja yang ditaksir oleh Nadia.
Nadia tidak merespons semuanya sampai akhirnya Chika berhenti berhipotesis dan menyadari kalau harusnya dia memang diam dulu sampai cerita Nadia selesai.
“Bukan Chika sayaang. Bukan mereka semua, lagian aku kan enggak kenal sama si Ryan, Bimo atau Roy nggak jelas itu,” suara Nadia terdengar kalem dan teratur, tidak seperti biasanya yang suka nggak diatur nada dan intonasinya kalau lagi ngobrol.
“Mmm, bukan smeua yaa Nad ? terus siapa dong ?” suara Chika terdengar kecewa dan ingin tahu, Chika sebenernya tahu kalau Ryan suka sama Nadia, jadi dia berharap mendengar kalau Nadia juga suka sama Ryan, tapi ternyata bukan Ryan.
“Itu Chik.. Gue, emmm, gue jatuh cinta sama Baro,” sahut Nadia pelan.
Chika yang separuh sadar masih belum mengerti dan mencoba untuk memutar ulang ingatannya tentang setiap cowok kelas 3 di SMA Sentosa tempatnya sekolah, “Bara kali Nad ?? Di Sentosa nggak ada yang namanya Baro, adanya Bara, yang atlet voli itu, kelas IPS 5. Yang itu Nad ? aduuuh, jangan deh Nad, nggak banget pacaran sama orang yang jauh lebih cinta bola daripada ceweknya,” Chika mulai berasumsi tidak jelas lagi.
Nadia menghela nafas lagi.
“Chika, maksud gue bukan Bara. Tapi Baro, BARO B1A4!” kata Nadia keras.
Kesadaran Chika kembali mencapai angka 100% saat mendengarnya, tapi sejurus kemudian, Chika berharap itu semua tadi hanyalah mimpi buruk.
wkwkwkw keren deh kayanya eonni ! ^^
BalasHapus