Selasa, 18 Oktober 2011

[novel] CONFESSION - Part 1




Confession

Chapter 1


No one ever said that life was fair
And I’m not saying that it should be.

(Alesana –Congratulations, I Hate You)


Medan, 29 Juni 1991


“Diam kamu ! Kalau memang kamu tidak mau ikut aku pindah ke sini, ya jangan pernah menyalahkan aku, pulang sana kembali ke Jawa, pulang dan bawa anak sialan itu !” teriakan keras seseorang yang enggan kusebut ayah, waktu itu aku belum tau apa-apa. 1 bulan bukanlah usia dimana bayi kecil itu bisa mengerti.

Sang ibu hanya bisa menangis. Dan sedetik selanjutnya berteriak, “Kamu yang tidak bisa mengerti aku! Kamu yang egois! Ini anak kamu juga, anak kita, kamu piker kamu ini bukan bapaknya? Baiklah, aku pulang! Aku akan kembali dan bawa Axio pergi!!”

Kamu  pasti udah bisa nebak apa yang terjadi kan ?
1 bulan setelah Axio lahir, ibunya bertengkar dengan laki-laki yang darahnya (cih) mengalir juga di dalam tubuhnya. Umur ibunya masih kecil, 21 tahun dan sudah melahirkannya.

Dan laki-laki pemilik hotel ternama di Medan itu bahkan tidak memperlakukannya sepantasnya seorang suami mengasihi istrinya, juga tidak mengakui bahwa bayi kecil itu adalah putri kandungnya. Itu yang membuat Axio membenci ayahnya melebihi siapapun di dunia ini.





Denpasar, 12 April 2007

“Axee! Bangun!! Sekolah nggak kamu? Udah jam 7 lebih Axe !!” suara cempreng itu lagi. Suara yang nggak pernah bosen membangunkannya  tiap pagi.
“Bentar maa, Axe males nih. Toh udah telat juga, bikinin surat izin aja lah mah, bolos hari ini. Mau ke Bali Art Centre, ngelukis!” terdengar teriakan yang tak kalah kencang

Nah, benar kan, nggak perlu nunggu 5 menit buat mama melesat ke kamar di lantai 2 itu sambil membawa sendok nasi kayu yang sebentar lagi pasti dipukulkan ke pantat pemilik suara cempreng yang satunya.l

Bug !

“Aduh mama apaan sih, sakit tau!” Axio mengeluh sambil mengelus pantatnya yang sakit kena hantam sendok nasi nya mama.

“Axe, nggak ada ceritanya ya kamu bolos sampai 5 kali dalam sebulan! Kamu piker sekolah ini buat apa ?? Nyari gebetan ?? Seenaknya sendiri, mama tuh kerja sendirian buat biayain kamu sekolah, Axe!” mama terlihat sangat marah.

Well, emang ya ini bakal jadi kali ke-5 Axe bolos sekolah di bulan ini yang bahkan baru berjalan 12 hari, rekor baru Axe!

“Mah, mau gimanapun, aku udah telat kan ?? udah nggak bisa masuk ke sekolah juga, tau sendiri satpamnya lebih ganas dari anjing herder nya Om Soni,” elaknya. Hari ini dia benar-benar ingin melukis dan tidak mau menghadapi buku besar akuntansi yang mulai memuakkan itu.

“Nggak bisa! Kamu harus masuk, nanti loncat pagar kek, apa kek, yang penting bisa masuk ke sekolah. Bawa uang 50ribu juga pasti udah dikasih izin masuk sama satpamnya kok!” mama masih tidak mau kalah dan bahkan benar-benar menyodorkan selembar kertas biru bergambar Pura di Bedugul itu, “Nih! Bawa ini, kasih deh ke pak satpam!”

Gadis tomboy itu  menguap lebar dan kembali menarik selimut tebal yang dibelinya Sukowati 3 tahun lalu.Dan hal itu sukses membuat 2 pukulan lagi mendarat di, err, lagi lagi pantatnya.


“Ma, sekali ini aja Axe bolos, udah deh janji ini yang terakhir, yaaa?” Axe mulai memasang wajah innocent dan menyuarakannya dengan intonasi memohon yang terlalu dibuat-buat.
Mama sepertinya mengaku kalah secara tersirat dan mulai melangkah keluar kamar.

“Maaah ! Uang 50ribunya mana ?? Sekalian ntar Axe mau beli kuas baruu!” teriaknya yang dibalas dengan sendok nasi yang sukses mengenai kening Axe. Oke, sepertinya itu tanda kalau dia harus berbaring lebih lama lagi, pusing.




Bali .
Everyday is holiday in Bali.
Itu sih kata Joger, tapi kalau kamu Tanya kepada seorang Axio Viandra, everyday is such a silly thing in Bali.

Bukan, bukan karena Axe nggak suka Bali. Gila aja, siapa sih yang bisa benci sama pulau mungil, indah, rapi, tertata, bersih, nyaman, banyak turis seliweran dan puluhan objek pariwisata ternama macam ini ??

Dan siapa yang nggak suka tinggal di Provinsi yang bahkan jauh lebih terkenal dari pada negaranya sendiri?

Hahaha, silly banget kan ?
Axe pernah punya teman Skype dari Hongaria yang tampak terkejut saat tau bahwa dia dari Indonesia dan seolah-olah itu sebuah hal yang wajar, dia bertanya :

Kruvitton_whalme : Wow, Indonesia ? This is the first time I hear about that country. What is the color of your national flag ?

Axeaxechocolate : hmm. Red and white flag.

Kruvitton_whalme : just like a Poland ? Is it near from Poland?

Axeaxechocolate : definitely not ! Indonesia is so far away from Poland. J Have you ever gone to Bali ??

Kruivitton_whalme : Of course ! I often go to Bali. That place was so beautiful and always be. So, where is Indonesia ? Is it still far away from Bali ?

Axeaxechocolate : you wish! Bali was one of 34 states in Indonesia (-,-“)

Kenapa ? Penasaran dengan balasan dari si Hongaria aneh itu ? You wish! Tapi Axe toh terlanjur sign out dari Skype karena males banget sama pertanyaan-pertanyaan irasional nya Kruppukton itu tentang Indonesia. Absurd banget sumpah .

Itu baru alasan pertama kenapa buat dia, hari-hari di Bali ini konyol.
Just follow me and I’ll show you more reasons.

Sepeda lipat hijau metalik itu sudah melucur sempurna di jalanan menuju Bali Art Center. Tempat itu asik sekali dengan banyaknya pohon, bangunan pura yang sangat artistic, sebuah suangai yang membelah kawasan itu, galeri seni nya, dan taman-taman indahnya. Tempat yang sangat tepat untuk mencari inspirasi yang bisa  dituangkan ke dalam kanvas-kanvas kosong di carrierya.

Overseas and coast to coast
To find a place I love the most
Where the sky is blue, to see you once again
My Love

Suara cempreng itu  mendengdangkan lagu yang diputarkan oleh dadu pemutar musik yang terselip di saku jaket adidas belelnya
Axe maniak Westlife.
Axe maniak Simple Plan juga Coldplay.

Sambil terus nyanyi bareng Mark dan Nick, kakinya mengayun cepat sepeda tercinta itu.
Sampai.

Bali Art Center

Sebuah lokasi sempurna untuk penikmat seni, menurutnya sih. Axe sendiri tidak terlalu tahu tentang seni, dia hanya suka melukis dan di tempat ini, ide selalu mengalir sejalan dengan sungai di sini.

“Mbak Axio, kok jam segini mau melukis ? Lagi libur semesteran ya?’ seorang wanita paruh baya dengan dandanan dan baju khas Bali itu menyapanya ramah. Di tangannya terlihar sebuah baki sesajen yang pastinya akan di letakkan di sudut-sudut tertentu.
“Enggak, aku bolos, hehe”sambil terkekeh Axe melewatinya dan bergegas pergi ke tempat langgananya yang ……
Holy shit!
Sudah dikuasai secara semena-mena oleh seorang turis Asia, entah Jepang atau Korea, yang jelas Axe lebih berharap dia dari Korea Utara, jadi bisa mengajarinya merangkai bom nuklir untuk menghancurkannya di tempat.
Balasan karena sudah menduduki bangku istimewa itu !

Maksudnya, benar-benar istimewa, karena bangku itu diletakkan khusus disitu oleh Bli Made Korakora hanya untuknya ! Cek saja coretan hijau yang jika dibaca secara seksama akan berbunyi “Axe” itu, batin Axe geram.

Axe  baru akan melangkah mencari tempat lain saat manusia dengan kulit seputih susu dan kurus itu meneriakkan sesuatu yang tidak ku ketahui. Axe tak menoleh, tapi lagi-lagi dia berteriak,

Cogiyo! Cogiyo noona!!”

Axe pun menoleh, menghampirinya, “Excuse me Sir, I don’t understand about what you just said. Speak in English please?”
Bukankah ini sebuah keharusan bagi setiap orang di Bali untuk menguasai Bahasa Inggris, berbanding lurus dengan banyaknya turis yang kami temui setiap hari.

Laku-laki di depannya itu tampak bingung. Dia terlihat jauh lebih tua dari pada aku yang 16 tahun ini, mungkin sudah 23 tahun, Hmm, tua sekali yaa ternyata,. Memikirkan itu keningnya jadi berkerut dan mulutnya sudah monyong ke depan.

Yaa, wae irae ??” katanya lagi.

Axe hanya menghela nafas dan memegang kepalanya, haish, migrain!

Laki-laki yang tidak bisa bahasa Inggris sama sekali itu pasti tersesat, pikir Axe konyol.

“Han Ji Sung”, katanya sambil menglurukan tangannya, “Ireumi mwoeyo?”

Oh siaaal!
Axe sama sekali nggak ngerti dia ngomong apa. Tapi karena tadi dia bilang Ji Sung yang pastinya itu nama, Axe pun membalas uluran tangannya.

“Axio Viandra. Aneh ya namaku? Kaya merk laptop,” katanya sambil tertawa.

Dia juga tertawa dan dia…
Ehm.
Tampan juga. Bukaan, bukan tampan yang seperti orang Korea di posternya Alodia, temannya yang Korean Freak itu, bukan yang kaya 13 cowok itu, tapi dia lebih seperti hasil kawin silang antara Korea dengan Indonesia.
Sadar dia baru saja memikirkan hal yang tidak sepantasnya, Axe kembali ke dunia nyata.

“Hei, aku tidak tau sama sekali bahasa Korea, apa kamu juga tidak bisa bicara dalam bahasa Inggris?” tanyaku.

Ji Sung menggeleng pelan dan merapikan poninya yang terjatuh menutupi matanya.
Axe sendiri bingung harus bagaimana, tapi gadis yang di saku celananya penuh kuas itu lantas mengeluarkan easel lipat yang dibuatkan oleh Bli Agung, tetangganya dan juga menata kanvas diatasnya.

“Kamu pelukis ya?” sapa Jisung dalam bahasa Kore yang masih tidak dipahami Axe.

Acuh saja Axe mengangguk dan mulai mencari bidikan saat tiba-tiba Jisung berdiri dibalik kanvasnya sambil menunjuk wajahnya sendiri.

“Kamu mau dilukis ?” Axe menahan tawa, geli. “Oke, duduk disana, dan bergayalah sesukamu”

Ji Sung duduk di seberang Axe dan bergaya dengan sangat aneh, jari tengah dan jari telunjuk membentuk huruf V, dan sedikit memanyunkan mulutnya.

“Bisakah kau bergaya yang normal sajaa ?’ Axe bertanya setengah berteriak.

Tapi Han Ji Sung tak bergerak, dan tetap pada pose nya yang semula. Tak tahan, Axe mendekatinya dan membetulkan posisi Jisung agar senormal mungkin.

“Kalau kamu bergaya kaya gitu, yang pegel kan juga kamu,” omel Axe sambil memegang tangan Jisung dan meletakkannya di atas bangku. Tangannya hangat sekali, dan nyaman.. lagi-lagi Axe memikirkan yang tidak-tidak. Hal itu jelas membuatnya gusar. Karena itu untuk kali pertama dia merasakan hal yang berbeda saat menyentuh tangan seorang laki-laki. Axe toh belum pernah punya pacar sebelumnya.

Ppali wa!” Ji Sung mulai tampak tidak sabar karena Axe berkali-kali membetulkan posisinya sementara dia ingin bergaya sesuai kehendak hatinya.

“Heh ! Diem deh, susah banget diaturnyaa, gini nih, udah nggak mudeng kamu maunya gimana, nggak paham kamu ngomong apa! Mending ngelukis yang lain ajalah kalau gitu,” seru Axe setengah frustasi sambil mulai mengemasi barang-barangnya.

Orang bilang, seorang seniman, khususnya pelukis itu sabar, indah, dan selalu terlihat eksentrik. Tapi hal itu tidak berlaku untuk gadis aneh ini. Dia sama sekali tidak sabar, tapi indah dan eksentrik.

Dia merasakan sesuatu menahan pergelangannya, tangan yang hangat itu. Tangan yang memakai gelang tali itu menahannya. Meluluhkan semua emosi Axe saat itu juga.

Yaa, kajima Akse, mianhae”, Jisung masih memegang tangan gadis di depannya itu.

Sontak Axe tertawa keras, “Hhahaha, kamu ini lucu sekali. Namaku kan Axe, tapi kamu bahkan mengatakannya seolah-olah namaku Akse, bukan Axe. Huu,” Axe mencubit pelan laki-laki itu. Aneh, ini kan baru pertama kali dia bertemu dengan cowok itu, tapi kenapa rasanya sudah sangat nyaman, akrab, bahkan di tengah perbedaan bahasa yang membuat mereka tidak bisa berkomunikasi dengan baik itu.

Axe membalik badannya dan kembali mengeluarkan easel nya. Kali ini Jisung berpose seperti seorang cowok yang sok keren dan  macho yang diam, meletakkan kedua tangannya di bangku tempat ia duduk, dan tampak merenung. Meski wajahnya konyol, toh Axe tetap mengaguminya dalam hati.

Melukis seseorang, membuat sketsa wajahnya, itu sama dengan kamu harus mengamati setiap inch lekuk wajahnya. Mengamati mata Jisung yang sedikit lebar, hidungnya yang proporsional dan senyum nya yang membuatnya tenang.

Love at the first time?
Axe langsung membuang semua pikiran itu jauh-jauh. Kalaupun dia pengen jatuh cinta, setidaknya sama orang Indonesia deh biar tau bahasanya. Axe tersenyum kecil.

Yaa! Neo micheosso? Kenapa senyum-senyum sendiri?” Jisung berteriak karena melihat Axe yang tersenyum dan kadang tertawa sendiri.

“Eh orang Korea, terserah ya mau ngomong apa, aku nggak ngerti,” balasnya sambil menjulurkan lidah.

Sebetulnya, lukisan wajah Han Ji Sung itu sudah selesai dibuat, bagi seorang seperti Axe, melukis wajah tidak perlu waktu yang lama, tapi juga belum pernah secepat itu. Bahkan kurang dari 2 jam, Axe sudah hafal betul tiap inch dari wajah Ji Sung yang dibuat Tuhan begitu menyenangkan untuk dilihat.

Jisung sontak berdiri mendekati Axe dan saat melihat kanvas yang tadinya kosong itu sudah berisi lukisan wajahnya, ia berseru “Wooow! Daebak!! Akse jjang!” sambil mengacak rambut Axe.
Axe mendongak, Jisung tinggi, jadi dia kalah jauh deh.
Jisung melihat jam tangannya lalu mengambil lukisan itu dan melambaikan tangannya ke Axe.

Annyeeong Akse!” serunya sambil berjalan menjauh.

“Begitu saja? Sudah? Benar-benar hanya seperti itu? Begitukah cara cowok Korea mencampakkan gadis manis seperti aku yang bahkan sudah melukis untuknya? Tidak ada terimakasih ? Tidak ada es teh atau es krim ?” Axe terus menggerutu. Oke, mungkin menyukai Jisung harus dipertimbangkan 1000 kali lagi.




DICTIONARY KOREA - INDONESIA for CHAPTER 1

1) cogiyo : permisi (untuk memanggil seseorang)
2) wae irae ? : kenapa sih ?
3) Ireumi mwoeyo ? : nama anda siapa ??
4) ppaliwa! : cepetan dong
5) kajima : jangan pergi
6) mianhae : maaf
7) daebak : hebat
8) jjang : keren;hebat






Tidak ada komentar:

Posting Komentar